Sabtu, 25 April 2009

MAY DAY SEBAGAI SEJARAH PERJUANGAN KELAS


Asal-Usul
May Day lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Gerigi-gerigi panas mesin era industri membelalakkan mata kaum pekerja terhadap kondisi masyarakat. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis Barat. Amerika Serikat merupakan contoh konkrit. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, menuai amarah dan perlawanan dari kalangan kelas pekerja. Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi di 1806 oleh pekerja cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.


Abad 19 juga menandakan sebuah momen penting kesadaran kelas pekerja dunia. Kongres Internasional Pertama [i], diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari, yang sebelumnya (masih pada tahun sama) telah dilakukan National Labour Union di AS: “Sebagaimana batasan-batasan ini mewakili tuntutan umum kelas pekerja Amerika Serikat, maka kongres merubah tuntutan ini menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.” Kaum revolusioner waktu itu menganggap bahwa tuntutan delapan jam sehari bukanlah tuntutan final, melainkan taktik untuk mengakselerasikan kesadaran kelas yang luas di antara kalangan kelas pekerja. Semenjak saat inilah, gerakan pekerja mulai menggemakan ide-ide mengenai solidaritas internasional. Di mana harapan akan sebuah dunia baru yang lebih baik mulai bersemi di setiap hati para kelas pekerja dunia yang beramai-ramai berseru: “Derita satu adalah derita yang dirasakan semua!” Kongres Jenewa merupakan titik berangkat transformasi visi dan strategi gerakan kelas pekerja di masa depan.

Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut.

Tragedi Haymarket

Pada April 1886, ratusan ribu kelas pekerja di AS yang berkeinginan kuat menghentikan dominasi kelas borjuis, bergabung dengan organisasi pekerja Knights of Labour. Perjuangan kelas masif menemukan momentum di Chicago, salah satu pusat pengorganisiran serikat-serikat pekerja AS yang cukup besar. Gerakan serikat pekerja di kota ini sangat dipengaruhi ide-ide International Workingsmen Association. Gerakan tersebut telah melakukan agitasi dan propaganda tanpa henti sebelum Mei untuk merealisasikan tuntutan ‘Delapan Jam Sehari.’ Menjelang 1 Mei, sekitar 50.000 pekerja telah melakukan pemogokan. Sekitar 30.000 pekerja bergabung dengan mereka di kemudian hari. Para pekerja turun ke jalan bersama anak-anak serta istri untuk meneriakkan tuntutan universal ‘Delapan Jam Sehari.’ Pemogokan ini membawa aktifitas industri di Chicago lumpuh dan membuat kelas borjuis panik.

Namun tepat 3 Mei, pemerintah mengutus sejumlah polisi untuk meredam pemogokan pekerja di pabrik McCormick. Mereka menembak mati empat orang pekerja dan menciderai banyak orang. Gusar dengan tindakan kelas penguasa tersebut, sejumlah kaum anarkis yang dipimpin Albert Parsons dan August Spies–juga merupakan anggota aktif Knights of Labour–menyerukan kepada kelas pekerja agar mempersenjatai diri dan berpartisipasi di dalam demonstrasi keesokan hari. Pertemuan di hari berikut yang berlokasi di bunderan Haymarket itu, berjalan tanpa insiden. Karena cuaca buruk banyak partisipan aksi membubarkan diri dan kerumunan tersisa sekitar ratusan orang. Pada saat itulah, 180 polisi datang dan menyuruh pertemuan dibubarkan. Ketika pembicara terakhir hendak turun mimbar, menuruti peringatan polisi tersebut, sebuah bom meledak di barisan polisi. Satu orang terbunuh dan melukai 70 orang diantaranya. Polisi menyikapi ledakan bom tersebut dengan menembaki kerumunan pekerja yang berkumpul, menyebabkan satu orang terbunuh dan banyak yang terluka.

Meskipun tidak jelas siapa yang melakukan pelemparan bom, media massa dan politisi borjuis mulai melemparkan tuduhan-tuduhan kabur bahwa ledakan tersebut merupakan ulah kaum sosialis dan anarkis. Mereka menyerukan ’sebuah balas dendam yang pantas kepada kaum radikal.’ Setiap tempat pertemuan, sekretariat serikat pekerja, tempat cetak, serta rumah pribadi para aktifis diserang polisi. Setiap tokoh sosialis dan anarkis ditangkap. Bahkan individu-individu yang sama sekali tidak memahami apa itu sosialisme dan anarkisme, ditahan dan disiksa. Julius Grinnell, Jaksa Penuntut Umum kota tersebut, menyuruh kepolisian ‘melakukan penyergapan terlebih dahulu baru kemudian mempertimbangkan pelanggaran-pelanggaran hukumnya’. Delapan dari tokoh anarkis yang aktif di Chicago, dituntut dengan tuduhan pembunuhan terencana. Mereka adalah August Spies, Albert Parsons, Adolph Fischer, George Engel, Fielden, Michael Schwab, Louis Lingg dan Oscar Neebe.

Pengadilan spektakuler kedelapan anarkis tersebut adalah salah satu sejarah kebengisan lembaga peradilan AS yang sangat dipengaruhi kelas borjuis Chicago. Pada 21 Juni, 1886, tanpa ada bukti-bukti kuat yang dapat mengasosiasikan kedelapan anarkis dengan insiden tersebut (dari kedelapan orang, hanya satu yang hadir. Dan Ia berada di mimbar pembicara ketika insiden terjadi), pengadilan menjatuhi hukuman mati kepada para tertuduh. Pada 11 November, 1887, Albert Parsons, August Spies, Adolf Fischer, dan George Engel dihukum gantung. Louise Lingg menggantung dirinya di penjara.

Sekitar 250.000 orang berkerumun mengiringi prosesi pemakaman Albert Parsons sambil mengekspresikan kekecewaan terhadap praktik korup pengadilan AS. Kampanye-kampanye untuk membebaskan mereka yang masih berada di dalam tahanan, terus berlangsung. Pada Juni, 1893, Gubernur Altgeld, yang membebaskan sisa tahanan peristiwa Haymarket, mengeluarkan pernyataan bahwa, ‘mereka yang telah dibebaskan, bukanlah karena mereka telah diampuni, melainkan karena mereka sama sekali tidak bersalah.’ Ia meneruskan klaim bahwa mereka yang telah dihukum gantung dan yang sekarang dibebaskan adalah korban dari ‘hakim-hakim serta para juri yang disuap.’ Tindakan ini mengakhiri karir politiknya.

Bagi kaum revolusioner dan aktifis gerakan pekerja saat itu, tragedi Haymarket bukanlah sekadar sebuah drama perjuangan tuntunan ‘Delapan Jam Sehari’, tetapi sebuah harapan untuk memerjuangkan dunia baru yang lebih baik. Pada Kongres Internasional Kedua di Paris, 1889, 1 Mei ditetapkan sebagai hari libur pekerja. Penetapan untuk memperingati para martir Haymarket di mana bendera merah menjadi simbol setiap tumpah darah kelas pekerja yang berjuang demi hak-haknya.

Meskipun begitu, komitmen Internasional Kedua kepada tradisi May Day diwarisi dengan semangat berbeda. Kaum Sosial Demokrat Jerman, elemen yang cukup berpengaruh di Organisasi Internasional Kedua, mengirim jutaan pekerja untuk mati di medan perang demi ‘Negara dan Bangsa.’ Setelah dua Perang Dunia berlalu, May Day hanya menjadi tradisi usang, di mana serikat buruh dan partai Kiri memanfaatkan momentum tersebut demi kepentingan ideologis. Terutama di era Stalinis, di mana banyak dari organisasi anarkis dan gerakan pekerja radikal dibabat habis di bawah pemerintahan partai komunis.[ii] Hingga hari ini, tradisi May Day telah direduksi menjadi sekadar ‘Hari Buruh’, dan bukan lagi sebuah hari peringatan kelas pekerja atau proletar untuk menghapuskan kelas dan kapitalisme.


Redefinisi Proletariat Modern

May Day, sebagai sebuah sejarah perjuangan kelas, adalah bukti kesadaran kelas pekerja yang hadir sejak diawalinya industrialisasi di dalam masyarakat. Masyarakat terubah menjadi pabrik dengan mesin-mesin bising beserta divisi-divisi kerja, yang memisah-misahkan aktifitas dan kesadaran mereka sebagai kelas yang tersubordinat. Transformasi ini mendefinisikan bentuk dari kesadaran kelas yang terjadi pada waktu itu. Apabila May Day lahir dari radikalisasi kesadaran kelas pekerja di era industri, bagaimana menempatkannya dengan kesadaran kelas di era pascaindustri, di mana kelas itu sendiri telah semakin kabur?

Setelah Perang Dunia II, banyak pemikir Marxis, terutama kalangan Mazhab Frankfurt [iii], tidak lagi melihat romantisisme perjuangan kelas era industri sebagai sesuatu yang relevan bagi sistem yang mereka namai sebagai ‘kapitalisme lanjut’. Mereka melihat perkembangan kapitalisme industrial menuju pascaindustrial melahirkan bentuk-bentuk lebih maju, kompleks, yang dapat mengintegrasikan setiap level aktifitas sosio-kultural masyarakat. Perkembangan ini bisa dilihat dari tumbuh pesatnya pabrik-pabrik pendidikan dan budaya teknokratik serta munculnya ideologi kekuasaan baru: kapitalisme birokratik. Kapitalisme lanjut, menurut mereka, telah berhasil merasionalisasi keterasingan masyarakat menjadi sesuatu yang normal. Peran-peran ini terutama dilakukan oleh kemajuan teknologi dan industri pendidikan—yang mencapai kulminasinya setelah Perang Dunia II—dengan menyuntikkan ideologi borjuis kepada pelajar, yang nantinya menjadi produk-produk intelektual kompeten bagi kepentingan kapitalisme. Proletariat pascaindustri tidak lagi terwujud sebagai kelas-kelas, dalam pengertian konsepsi Marxis mengenai konflik yang tak terdamaikan di antara kelas pekerja dan kelas pemodal. Kontradiksi kelas semacam ini, bagaimanapun, telah menguap. Di negara-negara komunis kelas pekerja menjadi bagian birokrasi negara dan menjadi hamba bagi ideologi kekuasaan tersebut. Sementara kelas pekerja di negara-negara kapitalisme Barat terintegrasi lebih jauh ke dalam budaya konsumtif. Kelas-kelas di dalam masyarakat sekarang, tidak lagi seperti kelas dalam bayangan Marx. Akan tetapi, sudah semakin terintegrasi dan melebur menjadi bagian inheren sistem kapitalistik.

Meskipun begitu, para filsuf ini sama sekali tidak menawarkan sebuah praktik konkrit untuk menyikapi sistem kapitalistik yang sudah sedemikian menyeluruh. Pada sisi lain, Mazhab Frankfurt, tetap memberi kontribusi penting fondasi teori-praksis ilmiah bagi gerakan-gerakan yang lahir dari setiap keretakkan kapitalisme lanjut. Gerakan-gerakan yang lahir dari Mazhab Frankfurt sangat dikarakteristisasikan dengan wacana emansipatoris, partisipatif, dan nonhierarkis yang juga menjadi narasi utama Teori Kritis aliran Frankfurt. Mazhab Frankfurt sengaja bergelut di wilayah sosiologi, psikologi, teknologi, dan budaya untuk menyingkap setiap kepentingan yang melatarbelakangi kesadaran ‘palsu’ individual dan perannya di dalam masyarakat.

Setelah tahun 60an—di mana terjadi berbagai perjuangan dari berbagai ranah kultural, rasial, gender, seksual serta tumbuh pesatnya gerakan pelajar—hingga pada perlawanan kontemporer terhadap neoliberalisme yang terjadi di seluruh dunia, May Day bukan lagi menjadi momen perayaan aktifis serikat pekerja dan partai Kiri. Akan tetapi momentum tersebut, telah direnggut menjadi momentum kesadaran kelas baru yang tidak lagi berasosiasi dengan praksis-praksis usang marxisme-leninisme. Dan yang lebih mencorakkan gerakan proletariat modern terhadap penolakan politik kepartaian dan penghambaan ideologi. Pemikir-pemikir Marxis ‘antiotoritarian’[iv] seperti: Antonio Negri, John Holloway, Harry Cleaver, membuka ruang bagi definisi baru perjuangan kelas, menjadi inspirator bagi gerakan emansipasitoris proletariat modern. Bahkan para pemikir ini, seringkali mengabaikan konsepsi kesadaran kelas Marxis tradisional, yang dianggap terlalu ekonomik-politis deterministik, sehingga tidak dapat merefleksikan kebutuhan emansipasistik proletariat di era pascaindustri.

“Karena kami précaires: kami para pengangguran, kaum perempuan dan anak muda, orang-orang biasa, pekerja tidak tetap, kaum pelajar, buruh migran. Kami adalah ketidaktetapan yang fleksibel, dan bertahan hidup dari ketidaktetapan yang lahir dari lusinan kolektif di setiap kota-kota dan melalui jaringan trans-Eropa untuk membela hak-hak sosial bersama dan mengklaim hal baru….

Kami tidak memiliki kepercayaan terhadap mereka, yang berada di bawah naungan pemerintah, serikat-serikat, partai politik, ataupun institusi-institusi kultural, yang berpura-pura berbicara mengatasnamakan kami dan mengambil keputusan yang berhubungan dengan hidup kami. Sementara di saat bersamaan mengacuhkan tuntutan-tuntutan sosial dan merepresi praktik-praktik transformasi sosial.” (Konfrensi Pers Jaringan May Day Eropa)

Pernyataan di atas memberi gambaran umum karakteristik kesadaran kelas baru era modern. Munculnya berbagai macam gerakan antiotoritarian yang bergelut di berbagai isu lingkungan, pelajar, homoseksual, indigenous, hak-hak perempuan dan imigran, pengangguran, pekerja tidak tetap, dan banyak lagi varian gerakan sosial, yang wacananya sentralnya adalah sebuah perlawanan menyeluruh terhadap kapitalisme neoliberal beserta aparatus negara.

Reclaim The Streets (RTS), yang berakar di Inggris, adalah gerakan lingkungan radikal yang mengambilalih jalan-jalan tersibuk pusat perkotaan—di dalam rentang waktu temporer–untuk mengangkat isu-isu penghapusan budaya kendaraan bermotor sambil berjoget ria dengan musik rave. Tidak jarang RTS melakukan kolaborasi bersama aksi pemogokan kelas pekerja. Tute Bianche, gerakan otonomis Italia, menduduki beberapa gedung kosong untuk dijadikan tempat koordinasi gerakan radikal antineoliberal sekaligus menjadikannya sarana ruang publik. Gerakan-gerakan pekerja seperti Wildcat Jerman, Federasi ClassWar, People’s Global Action, praktisi culture jammers[v] melawan budaya konsumtif, No Border Network, Zapatista, petani tanpa tanah di Brazil, Piqueterros Argentina, dan Mapuche di Chilli. Di Asia terdapat gerakan serikat pekerja radikal, Earth First di Davao, eks-pekerja PT DI dan Serikat Becak Jakarta di Indonesia, Intifada, Anarchist Against the Walls, dan gerakan homoseksual di Timur Tengah, adalah sekian dari beragamnya kesadaran kelas baru yang muncul di era pascaindustri. Sebuah kesadaran kelas tidak lagi digolongkan oleh definisi kelas-kelas sempit. Kesadaran kelas pascaindustri melihat diri sebagai subyek yang tersubordinasikan ke dalam sistem kapitalisme yang mengarah kepada kesadaran emansipatif demi mengambilalih kendali atas kehidupannya, di dalam relung aktifitas keseharian.

Impuls perjuangan kelas May Day juga berasal dari bentuk kesadaran kelas serupa. Perjuangan kelas Haymarket dipengaruhi oleh semangat antiotoritarian radikal yang tidak menghamba pada kepentingan ideologi kekuasan tertentu. Relevansi May Day hari ini adalah untuk mengembalikan impuls kesadaran kelas yang sejati, yang selama ini telah dininabobokkan oleh kepentingan ideologi Kiri dan hasratnya untuk menyubordinasi, meniadakan otonomi. Untuk membawa kesadaran kelas kepada setiap level masyarakat yang termiskinkan tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga secara pemenuhan kualitas hidup.

Mengenang kata-kata August Spies, salah satu martir Haymarket, ketika sedang menantang militansi perjuangan kelas pekerja Chicago dengan berseru: “To Arms we call you, to arms!”

Catatan Kaki:

[i] Kongres Internasional Pertama Jenewa, Swiss, merupakan awal manifestasi perjuangan kelas pekerja di seluruh dunia. Kongres dihadiri dan didominasi oleh kaum radikal dari berbagai variannya: sosialis, Marxis, mutualis, anarkis, serta berbagai organisasi serikat pekerja lain. Organisasi Internasional Pertama ini bernama International Workingsmen Association.

[ii] Hungaria 1956 adalah salah satu sekian bukti kebengisan Komunis Internasional di bawah bendera stalinis yang merepresi kehendak otonom dan swakelola kaum proletariat Hungaria yang menolak dominasi struktural partai komunis.

[iii] Pemikir-pemikir Marxis Mazhab Frankfurt—seperti Adorno, Habermas, dan Fromm, dll.—cukup berbeda dengan para teoritisi Marxis tradisional. Dengan meninggalkan tema besar Marx yang melulu menekankan pada wilayah ekonomi dan konsep kelas, terutama distorsi yang dilakukan oleh Engels dan Lenin, mereka memusatkan analisa kapitalisme lanjut pada ranah-ranah lain, yang mereka yakini telah tersubordinasikan ke dalam satu sistem kompleks dan lebih maju .

[iv] Para pemikir tersebut menginspirasikan dan terinspirasi dari gerakan-gerakan kelas pekerja otonomis Italia serta Zapatista di Meksiko. Kelompok Tute Bianche, adalah salah satu organ otonomis yang terinspirasi buku Empire karya Michael Hardt dan Antonio Negri. Penolakan terhadap pemberhalaan kerja, swaorganisasi, internasionalisme, otonomi serta perlawanan terhadap neoliberalisme merupakan tema sentral pemikir-pemikir tersebut. Karena alasan ini mereka juga dikategorikan sebagai pembawa impuls antiotoritarian—selain anarkisme—di dalam gerakan antiglobalisasi kapital kontemporer.

[v] Culture Jammer adalah sebutan bagi aktifis-aktifis anti-korporat yang bergerak di bidang penghancuran ruang-ruang teknologi informasi kapitalisme. Aksi-aksi mereka berupa vandalisme terhadap media-media iklan korporasi seperti: papan iklan, televisi, serta ruang-ruang publik lainnya untuk dapat menyampaikan pesan budaya tandingan alternatif melawan budaya kapitalistis. Termasuk meredefinisi nilai-nilai manusia yang sejati yang mereka yakini telah diubah menjadi keinginan untuk mengkonsumsi.

Daftar Pustaka

Kalle Lassn, Culture Jammer: The Uncooling America.
Michael Hardt, Antonio Negri, Empire, Harvard University Press.
Dr. Akhyar Yusuf Lubis, Dekonstruksi Epistemologi modern: Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme, Hingga Cultural Studies, Pustaka Indonesia Satu.
Affinitas, Marxis Otonomis.
Howard Zinn, People’s History of United States, New York: Harper & Row Publishers
Emma Goldman, Living My Life Vol 1, Dover books.
Naomi Klein, No Logo, Verso.

Situs
Wikipedia, Free Encyclopedia, Haymarket Tragedy

Jumat, 20 Maret 2009

Hubungan Feminisme dan Vegetarianisme


“Dosa terburuk terhadap sesama makhluk hidup bukan dengan membenci, namun dengan
mengacuhkan mereka. Ini adalah bibit dari ketidakmanusiawian.” (George Bernard Shaw)

KITA memaksa binatang melayani ‘kebutuhan’ manusia. Sebagai contoh dalam hal
makanan, pakaian, ilmu pengetahuan, hiburan, teman, olah raga, dan berbagai macam
lainnya. Dalam kehidupannya, perempuan dalam beberapa hal mengalami eksploitasi
serupa. Keduanya berada dalam tekanan budaya garis laki-laki, dan mengalami
pengurangan kebebasan - meskipun biasanya hal yang lebih parah terjadi pada
binatang. Sebagian besar masyarakat tidak menyadari diskriminasi seperti pengubahan
fungsi bahasa sehingga dapat digolongkan ke dalam pelecehan. Dan lebih banyak lagi,
kita tidak (mau) melihat ketidakadilan dan kekejaman yang mengatasnamakan kelebihan
kelompok (tertentu) manusia dari sesama makhluk.

Di dalam kamus Oxford, “animal” (binatang) dijabarkan sebagai benda/makhluk yang
dapat merasakan dan bergerak. Melalui ideologi, istilah “manusia” telah memisahkan
diri dari “binatang”. Kita telah memutuskan mata rantai yang menghubungkan kita
dengan spesies-spesies lain dari binatang. Sama seperti batasan-batasan yang
memisahkan orang kulit putih dan kulit berwarna, laki-laki dan perempuan. Rasisme
adalah kepercayaan yang menempatkan suatu ras tertentu lebih tinggi, berdasarkan
teori bahwa kemampuan, karakter dan lain-lain dari seorang manusia ditentukan oleh
ras. Sexisme adalah prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atau suatu
kelompok atau orang-orang berdasarkan jenis kelamin mereka. Garis-garis pemisah ini
telah dikenali dan ditolak namun telah ditanamkan sejak muda. Tidak berbeda dalam
kehidupan sehari-hari dengan rasisme dan sexisme adalah diskriminasi yang telah
tertanam dalam terhadap binatang-binatang lain yang bukan manusia. Diskriminasi
jenis ini disebut Speciesisme, yaitu suatu kepercayaan bahwa species-species
binatang yang berbeda (termasuk manusia) memiliki perbedaan kapasitas/kemampuan
untuk merasakan kesenangan dan kesakitan dan hak hidup bebasnya, biasanya mencakup
gagasan bahwa species tertentu memiliki hak menguasai dan menggunakan/memanfaatkan
species-species lainnya. Mungkin banyak orang berpikir bahwa menyetarakan
penderitaan binatang-binatang bukan manusia hal-hal yang dialami oleh manusia adalah
penghinaan.



Disamakan dengan seekor binatang dalam budaya kita adalah sama dengan dikecilkan
artinya, atau dianggap tidak memiliki pikiran dan lepas kontrol. Yang sering
digunakan adalah ejekan dengan meneriakkan “binatang” dan melupakan bahwa manusia
itu sendiri adalah salah satu jenis speciesnya. Sama seperti istilah “mankind” (man
= laki-laki) yang menempatkan perempuan diluar lingkarang kemanusiaan. Orang
menggunakan nama-nama binatang untuk menempelkan label pada korban-korban mereka.
Ketika seorang perempuan disebut sebagai “sebodoh kelinci”, atau “segemuk sapi”,
kita mengetahui perempuan tersebut telah dilecehkan karena binatang biasanya
menerima penghormatan yang jauh lebih kurang daripada yang diterima oleh perempuan.
Howard Buchbinder, penulis buku “Male Heterosexuality” mengupas stimulus seksual
laki-laki dan tanggapan merreka terhadap perempuan. Tahapan stimulasi, seperti juga
proses pengubahan binatang menjadi daging, dapat diuraikan dalam tiga tahap:

Penempatan sebagai obyek cara laki-laki melihat perempuan sebagai sebuah konsep.
Sebuah kumpulan, suatu benda, suatu obyek, sebuah kumpulan yang tidak dipandang
sebagai individu per individu. Dengan menempatkannya sebagai obyek, laki-laki tidak
lagi perlu berhubungan dengan perempuan pada tingkat personal. Feminisme telah
menunjukkan kepada kita bahwa bahasa kita tidak hanya berpusat pada laki-laki,
tetapi juga selalu dari sisi manusia.

Bahasa garis laki-laki bersikeras bahwa kata ganti yang diperuntukkan bagi laki-laki
bersifat umum mengacu pada manusia baik laki-laki maupun perempuan, sekaligus khusus
mengacu hanya pada laki-laki. Sama halnya dengan “it” yang mengacu pada benda-benda
mati dan tidak bergerak yang jenis kelaminnya tidak dipersoalkan atau tidak
diketahui.

Seperti “he” yang mengesampingkan kelompok jenis kelamin perempuan dalam
kemanusiaan, “it” tidak menyentuh aspek kehidupan yang ada pada diri para binatang
dan memberi mereka status obyek. Hal ini mengingkari kebebasan hidup dari binatang
tersebut. Binatang-binatang yang dianggap sebagai penghasil makanan dikembangbiakkan
baik dalam jumlah kecil maupun besar tidak dilihat sebagai individu, tidak sama
dengan perlakuan lebih bersahabat yang dialami oleh binatang peliharaan.

Perempuan dapat dipandang sebagai obyek seksual sebagai akibat dari gambaran yang
diperoleh dari budaya yang sedang berkembang sekarang ini. Para perempuan mungkin
mengungkapkan perasaan mereka dengan berkata bahwa mereka diperlakukan seperti
“seonggok daging”, harus ditekankan disini bahwa binatang benar-benar diperlakukan
sedemikian rupa.

Fiksasi/pengkhususan cara laki-laki membagi-bagi tubuh perempuan dari
individu-individu secara keseluruhan menjadi bagian-bagian yang secara khusus
dilihat secara seksual, seperti dada, paha, pantat atau pangkal paha. Pada binatang,
pengkhususan menjadi pemisah-misahan. Ini adalah tahap penjagalan, di “jalur/lajur
pemisahan” tempat tubuh binatang dipotong dan dipisahkan menjadi bagian-bagian yang
dapat dimakan dan tidak dapat dimakan. Kita mencari istilah terselubung bagi tubuh
mati dari binatang, yaitu daging, dan memasak serta membumbui dan menutupi binatang
tersebut dengan berbagai rempah dan saus untuk menyembunyikan bau dan bentuk asli
mereka.

Yang terakhir, penaklukkan, dengan keberhasilannya menempatkan perempuan sebagai
obyek yang terbagi-bagi sebagian laki-laki mencapai suatu tingkatan kepuasan
seksual.

Agar setiap orang dapat menikmati kebebasan, tak seorangpun dapat ditekan. Seorang
pemilik budak menghilangkan dua kebasan. Satu kebebasan budaknya, satu lagi
kebebasan dirinya sendiri.

Ciri-ciri penekanan terhadap perempuan dan penekanan terhadap binatang menunjukkan
begitu banyak persamaan sehingga tidaklah mengherankan jika feminis-feminis awal
kebangsaan Amerika sejak jaman Lucy Stine, Amelia Bloomer, Susan B. Anthony, dan
Elizabeth Cady Stanton sampai ke jaman Morgan (The Descent of Woman), Elizabeth
Gould Davis (The First Sex), Laurier Holliday (The Violent Sex) telah menjauhi
perbudakan binatang.

Jika semua yang mendukung falsafah dasar dari kebebasan menyangkut ras, jenis
kelamin, orientasi seksual, atau species bersatu dalam suatu pergerakan menjauhi
segala bentuk eksploitasi dan penekanan, maka semua binatang manusia dan bukan
manusia, laki-laki dan perempuan akan terbebaskan.

Rabu, 04 Februari 2009

SAYA ADALAH KUMPULAN LEMAK


Saya adalah kumpulan lemak dari sum-sum yang sempit !!

Perut-perut yang tumpah diatas kancing celana !!

Terbahak-bahaklah !, Saya setidaknya punya banyak dari yang kalian punya

Tidak ada yang salah dengan 60 Kg saya !!

Oh tidak, saya benci egois

Maka tariklah benangnya masukkan ke dalam jarum otakmu !

Ikat dengan kencang !

Behentilah meludah dengan makian yang sama !

Esteoporosis, lemah jantung, atau apalah namanya !

Bukan hanya saya yang di hadang itu dengan 60 Kg yang kasat mata !!!

Cobalah belajar menyisir, pakai lipstick, lalu belajarlah menjadi Cantik !!

Biar kalian merasakan luka yang sama !

Ini semua untuk kalian yang pengecut !!

Saya muak dengan Selamat pagi Manis

Mual dengan Selamat malam Sayang

Palsu !! itu terjadi sewaktu saya jadi apa yang kalian mau !!

Ideal, Putih, Cantik !!

Saya hanya akan menari telanjang diranjang bulan dan madu !

Lalu mana kalian apa sedang manari-nari dikerumunan penyihir ?

Kasihan ! Berapa harga untuk setiap keluguan kalian ?

Tak lelahkah menggosok tubuhmu dengan lulur tiap pagi ?

Menyiram perfume di kulit-kulit rekayasa Lotion ?

Ayolah, menjadi cantik itu sakit !!

Kartini bilang Kaumnya hanya akan kembali ke Dapur

Mengupas Bawang, Terpercik Minyak, Menumbuk Lada…

Lalu untuk apa Cantik itu Nona ??

Hey berhentilah mengkaji ulang feminitas !!

Laki-laki yang menelpon mu semalam lebih peka dengan kewanitaan mu !!

Buktinya ?? lelaki itu tahu kalian mesti pake blues warna apa hari Senin

Tahu mesti pake rok apa di hari Rabu dan

Tahu kalian akan memakai celana dalam apa di hari Sabtu

Lalu !!! itu yang kalian maksud dengan Cantik ???

Ini bukan persoalanya !!!

Saya tidak sedang mengajak kalian untuk mengemukakan diri !!!

Tapi berhentilah menjadi Cantik !!!!

Dyn