Jumat, 21 Mei 2010

FIGHTING FOR OUR LIVES

Kamu Mungkin Seorang Anarkis

Benar. Jika idemu tentang hubungan manusia yang sehat adalah acara santap malam bersama sahabat-sahabatmu, di mana setiap orang menikmati suasana persahabatan, tanggung jawab dibagi-bagi secara sukarela dan tidak ada orang yang memberi perintah atau menjual sesuatu, maka kamu adalah seorang anarkis, mudah dan sederhana.
Ketika kamu bertindak tanpa menunggu perintah atau perizinan formal, kamu adalah anarkis. Ketika kamu melanggar peraturan yang konyol ketika tidak ada yang mengawasi, kamu adalah anarkis. Dan kamu adalah anarkis ketika kamu menggagas ide-ide, inisiatif-inisiatif dan solusi-solusi.
Seperti kamu lihat, anarkisme terdapat dalam kehidupan sehari-hari dan membuatnya lebih menarik. Bayangkan jika kita selalu menggantungkan hidup pada otoritas, spesialis dan teknisi untuk mengurus berbagai hal—kita bukan saja akan menemui dunia yang sangat bermasalah—tapi juga dunia yang sangat membosankan. Saat ini kita hidup dalam dunia yang membosankan seperti itu, persis karena kita telah melepaskan banyak tanggung jawab dan kendali pada hidup kita sendiri, dan di saat yang bersamaan menyerahkannya pada orang lain, atau pun otoritas.
Akar dari anarkisme adalah impuls sederhana bertindak untuk diri kita sendiri: hal-hal lainnya menyusul.

Genealogi of force

Pada awalnya, keharmonisan: berbagai kelompok manusia hidup berdampingan—bersama-sama mengumpulkan dan meramu bahan pangan; makan, bermain, tidur, bernyanyi, bercinta dan bercerita. Kadang kala terjadi ketidak cocokan di antara mereka, pertentangan terjadi. Mereka yang berkonflik saling melontarkan kata-kata kasar, kemudian terjadilah pertarungan.
Ketika hal tersebut terjadi, orang-orang di dalam sebuah kelompok di mana konflik terjadi, bertemu untuk mencari solusi. Masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam suatu kelompok akan membawa perpecahan pada kelompok tersebut. Anggota-anggota kelompok mengalami kelaparan dan/atau menemui bencana: diserang binatang buas atau bergabung dengan kelompok lainnya yang lebih mampu menyelesaikan masalah. Konflik antar kelompok juga diselesaikan dengan cara yang sama. Cara hidup seperti itu bertahan selama ribuan tahun.
Namun pada suatu hari, terjadilah konflik yang tidak terselesaikan. Penyelesaian melalui dialog, dengan cara damai maupun dengan kekerasan tidak dapat menuntaskan masalah. Mungkin perubahan budaya dan nilai-nilai spiritual atau inovasi teknologi, mempertahankan antagonisme dan memicu mereka untuk terus-menerus bersaing setelah konflik mereda. Mereka tidak dapat lagi hidup berdampingan secara damai. Mereka menjadi mesin perang. Hubungan mereka dengan alam pun berubah: mereka mendisiplinkan tanah, agar mereka dapat menghasilkan pangan dalam jumlah berlebih sebagai persediaan—ketika mereka hidup dalam kondisi di mana perang dapat terjadi sewaktu-waktu. Hubungan antar manusia pun mengalami perubahan: mereka memandang orang lain sebagai orang yang berpotensi untuk menjadi kamerad seperjuangan atau sebagai musuh, menilai orang berdasarkan kekuatan di atas kualitas-kualitas manusia lainnya.
Kelompok-kelompok di wilayah sekitar pun tidak dapat terhindar dari konflik-konflik yang terjadi. Kelompok-kelompok tersebut pun akhirnya terlibat dalam konflik-konflik tersebut dan harus bersaing—suatu kondisi yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Banyak kelompok yang akhirnya musnah; yang lainnya yang mampu bertahan dengan beragam cara akhirnya menjadi mesin perang. Mereka juga menaklukan alam dan binatang, memperbudak musuh yang telah mereka kalahkan, bahkan orang-orang dari kelompok mereka sendiri; apapun yang terpikirkan akan dilakukan untuk bertahan dalam situasi yang penuh teror tersebut.
Perubahan-perubahan aneh terjadi pada bumi dan menular dari kelompok ke kelompok seperti kanker. Kelompok-kelompok kecil menggabungkan diri untuk menjadi kelompok besar dan pada akhirnya nasion; pemimpin-pemimpin militer temporer menjadi bangsawan-bangsawan yang mempertahankan posisi tersebut secara turun-temurun. Kelompok-kelompok ini tidak hanya mengalami perubahan dari segi kemiliteran. Wilayah diklaim dan ditandai dengan batas-batas yang kemudian menjadi sumber munculnya konflik-konflik baru. Ekonomi pasar diciptakan; orang-orang yang tidak lagi saling mempercayai bersikeras untuk menerapkan perdagangan, di mana dahulu orang saling berbagi. Mereka menyibukkan diri dengan persaingan dagang dan untuk menghasilkan keuntungan, bahkan dalam kondisi damai. Patriaki muncul: perang yang tidak pernah dideklarasikan antar seks, peran gender antara kaum ksatria dan kaum pelayan, dilembagakan dan diterapkan oleh satu generasi dan diwariskan ke generasi lainnya. Agama yang terorganisir diciptakan: sekarang manusia tidak lagi bersaing untuk lahan, pangan, hak milik, tapi juga untuk menguasai pikiran dan nurani orang lain.
Semua inovasi tersebut adalah bencana bagi manusia. Mereka mencoba mengimbangi akibat-akibat yang terjadi dengan inovasi-inovasi baru, yang sebenarnya merupakan bencana baru yang lebih dashyat. Pemerintah dibentuk untuk melindungi masyarakat, mengutip pajak dari mereka dan menikmati keringat dan kerja mereka; polisi memenuhi jalan-jalan untuk mencegah kejahatan tapi menjadi pihak yang melakukan kejahatan terburuk dengan leluasanya. Ketika mereka melindungi diri mereka dari kegananasan peradaban, keganasan dan monster-monster yang lebih dashyat muncul.
Nasion-nasion kecil yang berada dalam ancaman serangan dari nasion-nasion yang lebih besar mempersiapkan kekuatan bersenjata. Reaksi yang pada awalnya merupakan bentuk pertahanan diri berkembang secara berlebihan dan berlanjut—menjadi peperangan-peperangan untuk menaklukan bangsa-bangsa lainnya, sampai mereka menjadi imperium megah. Imperium Romawi bermula dari resistensi petani desa terhadap serangan Etruscan, dan ini menjadi awal persaingan di antara imperium-imperium Eropa, di mana perang berlangsung selama ratusan tahun. Di kemudian hari sejarawan akan melihat bahwa perang-perang berdarah sepanjang peradaban sebagai bukti dari “kegelapan nurani” barbarisme haus darah. Mungkin juga kaum barbar pecinta kedamaian yang mempertahankan diri mereka dari barbar haus darah. Mungkin juga kegelapan nurani sejatinya berada di tengah-tengah imperium-imperium tersebut, di pusaran badai, di mana kekerasan menjadi sesuatu yang mendarah daging dalam kehidupan manusia dan tidak terlihat lagi dengan mata telanjang: para budak yang berada di jalanan sepertinya bukan karena adanya paksaan tapi atas kehendak mereka sendiri, tidak berdaya untuk memberontak; gladiator yang saling membunuh pada sirkus-sirkus—sesuatu yang dianggap sebagai hiburan.
Kampanye militer yang berikutnya adalah gejala dari keganasan sosial, bukan didasari pada suatu tujuan yang diperjuangkan. Saat ini kekerasan ekonomi yang tidak kasat mata mengkomandokan kekerasan militeristik yang kasat mata. Tentara menaklukan wilayah-wilayah jajahan agar lebih banyak sumberdaya yang dapat dinikmati oleh para saudagar, dan masyarakat di daerah jajahan menjadi basis konsumen baru—perluasan pasar. Benua-benua ditaklukan dan penghuninya diperbudak dan kemelaratan mereka dianggap sebagai suatu bukti bahwa mereka berasal dari ras yang lebih rendah, oleh penjajah yang merampas dunia mereka. Misionaris merupakan garda depan dari penaklukan tersebut. Agama memaksakan kuasa tuhan pencemburu yang esa, sama seperti tentara memaksakan kuasanya yang brutal. Teror untuk suatu wilayah, darah untuk uang, uang untuk darah—tuhan memerintahkan semua itu seperti juga semua itu memerintahkan tuhan.
Para penerus misionaris yang sekarang eksis menyembah langsung pada pasar. Pendeta-pendeta ini bahkan lebih berhasil dibandingkan dengan para tentara dalam menerapkan kekuasaan: akan datang suatu hari ketika belenggu tidak lagi diperlukan untuk membuat para budak tunduk, ketika beragam jenis pemberhalaan dapat menundukkan dan mengadu domba mereka. Sekarang tidak seorang pun yang dapat mengingat bentuk kehidupan yang lain—anak berperang dengan bapak, bapak berperang dengan tetangga. Raja-raja, presiden-presiden, jendral-jendral berkuasa dan dijatuhkan oleh kekuasaan; namun sistem ini dan hirarki tetap berlangsung. Kompetisi adalah pemegang tahta, memilih dan menjungkalkan para pemenang tanpa ada rasa iba.
Setiap orang yang berada dalam hubungan yang penuh kekerasan ini masih (bahkan benar-benar ingin) melarikan diri dari hubungan tersebut. Tetapi mereka terlanjur membawa bibit-bibit kekerasan tersebut pada diri mereka, menghancurkan setiap suaka yang mereka masuki—seperti pengungsi yang melarikan diri menuju “Dunia Baru” dan kaum komunis yang menjatuhkan Czar. Bahkan mereka yang melarikan diri, seperti para seniman dengan komune-komune mereka yang menghiasi wilayah sekitar, dengan beragam inovasi provokatifnya, menjadi preseden untuk tren fotografi pada generasi berikutnya.
Kekerasan mencapai tingkatnya yang paling tinggi. Kekerasan menghantui kehidupan sehari-hari kita—tawuran antar pelajar, geng anak muda, tawuran kampung, pemerkosaan. Penjara-penjara dibanjiri. Jutaan nyawa hilang dalam pembasmian, genosida; mereka yang selamat selanjutnya memulai pembasmian-pembasmian berikutnya. Kita semua berada dalam daftar hukuman mati. Bahkan mereka yang tinggal di gedung-gedung yang diproteksi dengan perangkat keamanan paling canggih, mereka yang memegang polis asuransi jiwa paling lengkap—tidak lagi mempunyai rasa aman—pesawat udara kandas dan gedung bertingkat runtuh. Teror mengancam kita semua.
Malam ini, kaum muda Palestina sedang melakukan perhitungan: apakah musuh mereka telah memenuhi hidup mereka dengan cukup penderitaan hingga dia merasakan lebih banyak kebencian untuk mereka dari pada kecintaannya terhadap hidupnya sendiri? Dia berpikir tentang bapaknya yang cacat, rumahnya yang dibuldoser, teman-teman yang telah meninggalkannya—mereka melakukan perhitungan yang sama setiap harinya.
Di mana rasa cinta atas semua hal yang telah dilalui tersebut? Cinta masih ada dalam bentuknya yang masih sama seperti dulu: keluarga yang makan bersama, pertemanan, pemberian yang diberikan hanya karena memberi itu menyenangkan. Kita masih memaafkan, berbincang-bincang, merasakan jatuh cinta yang dashyat; kadang kelompok-kelompok manusia menyatukan diri untuk menghadapi musuh yang sama—bukan karena kebencian tapi demi kedamaian, mencoba menyelesaikan konflik seperti dulu, sebelum ada perang dan perdagangan. Momen-momen tersebut, bahkan ketika hanya terjadi di antara segelintir individu, masih merupakan sesuatu yang bernilai dan bermakna. Dan momen-momen tersebut masih mempunyai daya tular, sedashyat daya tular kebencian dan kekerasan.
Dunia saat ini sedang menunggu suatu perang melawan perang, cinta yang dipersenjatai, dan pertemanan yang dapat melindungi dirinya sendiri. Anarki adalah satu kata yang dipakai untuk mendeskripsikan momen-momen di mana kekuasaan dan kekuatan tidak dapat memaksa kita, dan ketika kehidupan tumbuh subur seperti memang seharusnya demikian. Anarkisme adalah sains yang menciptakan dan mempertahankan momen-momen tersebut. Ia adalah senjata yang mengaspirasikan ketidakbergunaan—satu-satunya senjata yang akan kita pakai dengan berharap melawan harapan, melalui alkemi baru, bahwa senjata kita itu tidak akan kemudian berbalik menghancurkan kita sendiri, nantinya. Kita mengetahui bahwa setelah revolusi, setelah setiap revolusi, perjuangan antara cinta dan kebencian akan terus berlanjut; namun saat ini dan selalu, pertanyaan yang penting adalah—pada sisi manakah engkau berada?

Anarki—apakah mungkin?

Orang-orang yang mempunyai sedikit pengetahuan sejarah aktual sering mengatakan bahwa anarki tidak dapat diterapkan—tanpa menyadari bahwa anarki bukan saja dapat diterapkan dalam banyak kesempatan selama sejarah manusia, tapi juga dapat diterapkan pada saat ini. Untuk sekarang marilah kita lupakan Komune Paris, Republik Spanyol, Woodstock, sistem rekayasa program komputer open source, dan semua yang merupakan simbol keberhasilan anarkisme revolusioner. Anarki adalah sesederhana—kerja sama berbagai pihak, di mana setiap pihak berdaulat atas dirinya sendiri. Anarki merupakan kehidupan sehari-hari—bukan sesuatu yang hanya akan terjadi “setelah terjadi revolusi”. Anarki diterapkan oleh lingkar-lingkar pertemanan di mana-mana—kemudian bagaimana kita dapat memperluas relasi ekonomi kita yang anarkis? Anarki terjadi ketika orang-orang berada dalam suatu perkemahan atau ketika sekelompok orang memberikan makanan gratis kepada orang-orang lapar—bagaimana kemudian kita dapat memperluas interaksi seperti itu dalam interaksi kita di sekolah, di tempat kerja, di lingkungan sekitar kita?
Anarki adalah kekacuan, kekacauan adalah suatu tatanan. Sistem yang tertata secara alami—hutan hujan merupakan salah satu contoh tatanan hasil kekacauan, suatu komunitas yang bersahabat—merupakan keharmonisan di mana keseimbangan sistem dijaga oleh kekacauan dan kesempatan. Di sisi lain, kekacauan sistematis—disiplin yang dijalankan di sekolah, deretan-deretan tanaman jagung yang steril hasil rekayasa genetika yang diproteksi dari gulma dan hama—hanya dapat dipertahankan dengan tindakan-tindakan pemaksaan yang selalu dieskalasikan. Sebagian orang berpikir bahwa tidak adanya tatanan adalah tidak adanya suatu sistem dan menyalah artikannya sebagai anarki. Namun ketidakteraturan adalah sistem yang paling kejam—ketidakteraturan dan konflik, yang tidak terselesaikan, dengan cepat akan berkembang secara sistematis, memunculkan hirarki berdasarkan kehendak-kehendak—ketiadaan nurani, nafsu untuk mendominasi. Ketidakteraturan dalam tahapnya yang paling berkembang adalah kapitalisme: perang antar berbagai pihak, menguasai atau dikuasai, menjual atau dijual, dari tanah sampai langit.
Kita hidup dalam zaman yang dipenuhi dengan kekerasan dan hirarki. Para maniak yang berpikir bahwa mereka diuntungkan oleh hirarki, mengatakan bahwa akan terjadi lebih banyak kekerasan tanpa adanya hirarki—tanpa memahami bahwa hirarki dalam bentuk ketimpangan ekonomi atau pun ketimpangan kekuasaan politik merupakan akibat dan ekspresi dari kekerasan tersebut. Bukan juga berarti bahwa mencabut otoritas secara paksa akan secara instan mengakhiri gelombang kekerasan; sampai kita semua belajar untuk hidup berdampingan demi kita sendiri, bukan karena perdamaian yang dipaksakan, sebab tidak akan ada kedamaian di antara kita karena sebuah pemaksaan.
Keadaan yang ada pada saat ini dipertahankan bukan hanya dengan senjata, hirarki atau mentalitas membunuh atau dibunuh: keadaan ini juga dipertahankan dengan diciptakannya mitos tentang kesuksesan. Sejarah resmi mencatat masa lalu kita sebagai sejarah para tokoh, dan bahwa hidup kita tidak lebih merupakan akibat-akibat dari pencapaian-pencapaian mereka; sejarah seperti itu mengatakan bahwa hanya ada sedikit orang yang merupakan subyek sejarah—dan selebihnya, kita, hanyalah objek sejarah. Mitos tentang kesuksesan ini berujung pada suatu kepercayaan bahwa hanya ada segelintir orang yang dapat meraih kesuksesan tersebut: raja-raja (presiden-presiden, bintang film, para eksekutif, dll). Dalam mitos ini juga kita menemukan suatu kepercayaan, bahwa hal-hal seperti itu merupakan sesuatu yang lazim, dan bahwa kita harus ‘berperang’ untuk menjadi sukses, atau setidaknya menerima secara lapang dada posisi di bawah orang-orang sukses ini, dan bersyukur pada orang-orang yang berada di bawah kita karena rela diinjak-injak untuk menjamin harga diri kita.
Bahkan orang-orang yang sudah meraih kesuksesan itu pun tidak akan pernah benar-benar bebas untuk berjalan-jalan di tempat-tempat yang diinginkannya. Mengapa kita harus puas hanya dengan kebebasan yang seperti itu? Ketika pemaksaan lenyap—pada ranjang-ranjang egaliter pecinta sejati, dalam suatu demokrasi dengan perkawanan yang erat, pada federasi-federasi teman bermain yang sedang menikmati pesta-pesta yang hebat dan tetangga yang asyik mengobrol—kita semua adalah ratu dan raja. Apakah mungkin anarki dapat memberikan semua itu? Yang jelas adalah, bahwa hirarki tidak dapat memberikannya. Lihatlah kota-kota yang dibangun oleh suatu keteraturan hirarkis—kau akan duduk pada kendaraan-kendaraan pribadi dalam suatu kemacetan lalu lintas, di antara orang-orang yang berkeringat dan mengumpat dalam keterasingan kolektif, sungai-sungai yang mengalami pencemaran berat di sisi kananmu dan perkampungan kumuh di sisi kirimu di mana genk-genk orang-orang berseragam dan tanpa seragam, berkonflik—demikianlah yang dinobatkan sebagai kemajuan. Jika ini adalah keteraturan, kenapa tidak mencoba kekacauan?

Anarki bukan anarkisme

Dengan mengatakan bahwa anarkis mempercayai anarkisme adalah sama dengan mengatakan bahwa seorang pemain piano mempercayai pianoisme. Tidak ada Anarkisme—yang ada adalah anarki, atau lebih tepatnya, beragam anarki.
Semenjak adanya kekuasaan, semangat anarki telah melekat pada diri kita, baik diberi cap atau tidak. Para budak dan barbar yang melawan kekuasaan imperium Roma untuk kemudian hidup dalam kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan, ibu-ibu yang membesarkan anak perempuan mereka untuk mencintai tubuh mereka dengan menentang iklan-iklan pelangsingan tubuh dan pihak-pihak lain yang berani menghadapi masalah-masalah dan menanganinya secara mandiri: mereka semua adalah anarkis. Sama halnya, kita semua adalah anarkis, ketika kita melakukan hal-hal seperti itu. Anarkis saat ini adalah para pelajar yang bolos sekolah, mereka yang menipu sistem perpajakan, perempuan yang belajar untuk memperbaiki sepeda, para pecinta yang menghasratkan sesuatu di luar batas-batas hubungan normal. Mereka tidak perlu untuk mencoblos partai anarkis atau menyetujui garis partai—hal itu akan mendiskualifikasi mereka sebagai anarkis. Anarki adalah suatu pola bagaimana kita merespon suatu situasi dan berinteraksi dengan sesama manusia, suatu kelas sikap manusia, bukan kelas ‘pekerja’.
Lupakanlah sejarah anarkisme sebagai suatu ide—lupakan orang-orang tua berjenggot. Adalah satu hal mengungkapkan anarki sebagai sesuatu dalam bahasa, tapi adalah hal yang lain untuk menjalani anarki dalam kehidupan. Tentunya kita tidak akan mebicarakan teori, rumus-rumus, atau pun biografi para pahlawan—yang kita bicarakan adalah tentang hidupmu. Satu-satunya yang pokok adalah anarki, kemunculannya di mana-mana, bukan teori anarkisme, yang dikaji para peneliti-peneliti spesialis kebebasan. Kita akan menemui orang yang mencap dirinya sendiri sebagai anarkis, tanpa pernah mengalami satu hari yang anarkis dalam hidupnya—kita harus menyadari seberapa jauh kita dapat mempercayai mereka.
Selanjutnya, bagaimanakah utopia anarkis akan berlangsung? Kami tidak akan terjebak lagi untuk menjawab pertanyaan itu. Apa yang kami bicarakan bukanlah visi utopis, bukanlah program atau ideal-ideal yang harus kita layani; anarki secara sederhana adalah bagaimana kita akan menghadapi dan menyikapi situasi dan masalah—karena pasti bahwa kita tidak akan selesai menghadapi masalah-masalah yang pasti akan terus menerus muncul. Menjadi anarkis bukanlah mempercayai anarki, apalagi anarkisme—tapi berarti bahwa kita bergantung pada diri kita sendiri dan mempunyai kendali dalam menjalani hidup dan bahwa suka atau tidak suka, hidup kita saling bergantung antara satu sama lain.

Apakah demokrasi seperti ini?

Anarkis menggunakan demokrasi—tapi kita tidak akan membiarkan demokrasi menggunakan kita. Kita mengutamakan kebutuhan-kebutuhan manusia yang terlibat—sistem apapun yang digunakan bersifat sementara. Kita tidak akan memaksakan diri kita dengan pembatasan-pembatasan prosedur yang mapan—kita akan menggunakan prosedur, sejauh prosedur itu melayani kepentingan manusia. Ada baiknya kita menjawab pertanyaan ini secara serius, “apakah yang harus diutamakan, kita atau sistem?”
Kita bekerja sama dan hidup berdampingan dengan sesama manusia termasuk bentuk-bentuk kehidupan lainnya, sejauh hal itu memungkinkan. Tapi kita tidak akan memberhalakan konsensus, apalagi Aturan Hukum. Ketika kita tidak dapat mencapai kesepakatan, kita akan menempuh jalan kita masing-masing, daripada saling membatasi. Dalam kasus-kasus ekstrim, ketika pihak-pihak lain menolak untuk mengakui kebutuhan-kebutuhan kita, atau terus menerus melakukan hal-hal yang membahayakan, kita akan bertindak dengan segala cara yang diperlukan—bukan demi keadilan, tapi sekedar mewakili kepentingan kita.
Kami melihat hukum sebagai sesuatu yang tidak lebih dari bayang-bayang aturan-aturan para pendahulu, yang diperpanjang seiring dengan waktu sehingga terkesan lebih bijak dari penilaian kita sendiri. Hukum-hukum ini bertahan hidup seperti mahluk yang tidak pernah mati, memaksakan keharusan-keharusan yang tidak dapat menghadirkan keadilan—bahkan mengasingkan kita dari keadilan—sepertinya kita tidak mampu menegakkan keadilan tanpa formalitas kuno dan jubah hakim. Hukum-hukum ini berkembang biak dan seiring dengan waktu menjadi sesuatu yang begitu asing bagi kebanyakan orang, sehingga diperlukan kelas pendeta baru, para pengacara yang mencari kehidupan dari kita. Mereka yang bersikeras bahwa keadilan hanya dapat ditegakan melalui hukum, adalah orang-orang sama yang berdiri sebagai tersangka dalam pengadilan kejahatan perang dan bersumpah bahwa mereka hanya menjalankan perintah. Tidak ada keadilan—yang ada hanya kita.
Ekonomi Anarkis berbeda secara radikal dengan bentuk-bentuk ekonomi lainnya. Anarkis bukan hanya melakukan transaksi secara berbeda, demikian juga dengan alat tukarnya—bukan sesuatu yang dapat diubah menjadi aset yang diperebutkan kapitalis dan yang ada dalam Perencanaan Lima Tahun pemerintah komunis. Kapitalis, sosialis dan komunis bertukar produk; anarkis saling bertukar bantuan, inspirasi dan loyalitas. Ekonomi kapitalis, sosialis dan komunis mengubah seluruh interaksi manusia menjadi komoditas: penjagaan keamanan, pelayanan medis, pendidikan, bahkan hubungan seksual merupakan jasa yang diperjual belikan. Ekonomi anarkis, memfokuskan pada kebutuhan dan hasrat individual, mengubah produk kembali menjadi relasi sosial. Interaksi ekonomi pada ekonomi kapitalis adalah penjualan; dalam ekonomi anarkis adalah pemberian.
Ekonomi anarkis bergantung pada modal sosial, yang berlawanan dengan properti pribadi. Modal pribadi berkurang ketika digunakan, seperti uang yang dibelanjakan oleh buruh-buruh harian untuk makanan—atau jika diperhitungkan untuk menumpuk kekayaan, bertambah dengan mengorbankan pihak lain, seperti dalam kasus korporasi yang mengeksploitasi buruh harian. Di sisi lainnya, modal sosial tersedia dalam jumlah yang besar—bahwa sebenarnya modal tersebut jika digunakan—akan menambah modal si pemberi dan juga yang lainnya: kebun kolektif di mana semakin banyak hasil yang didapat ketika semakin banyak orang yang terlibat di sana, gedung yang diduduki yang akan semakin bermanfaat ketika lebih banyak orang yang berkomitmen pada pengelolaannya. Anarkis mengembangkan suatu visi tentang dunia tanpa batas dalam berbagi.

Hedonisme sipil

Visi kami tentang relasi yang sehat adalah tentang penghapusan dikotomi—pribadi versus umum, kepentingan pribadi versus pengorbanan pribadi—yang seperti dikotomi-dikotomi lainnya hanyalah ilusi yang diciptakan. Mereka yang mengkotbahkan pengorbanan diri untuk kepentingan umum, masih memegang pemikiran dari model individual versus masyarakat; begitu juga dengan mereka yang beraspirasi menjadi individualis yang mandiri; bagi kami individual dan komunitas adalah seperti titik temu-titik temu dalam jaringan eksistensi—dan tidak dapat dipisah-pisahkan satu dengan yang lainnya. Kebebasan dan otonomi yang kita hargai hanya dimungkinkan dalam suatu konteks kultur yang kita bangun bersama, namun tiap-tiap dari kita harus membangun individual-individual tersendiri sebelum dapat berkontribusi pada penciptaan kultur bersama. Bahwa jika engkau dapat menyelamatkan dirimu, engkau dapat menyelamatkan dunia—tapi engkau juga harus menyelamatkan dunia untuk menyelamatkan dirimu sendiri.

Revolusi dan bukan perang

Berhati-hatilah dengan perjuangan. Tidak sedikit kaum radikal yang terlibat dalam politik karena mereka mengetahui semuanya tentang perlawanan, tapi sangat sedikit tentang hal lainnya. Mereka merubah semua bentuk interaksi menjadi konflik antara baik versus jahat, memapankan sikap dan membuat batasan-batasan, sampai akhirnya pertarungan adalah antara mereka versus dunia. Untuk mereka yang berprofesi sebagai agitator, sikap itu jelas cara yang baik untuk mempertahankan karir mereka—namun hal tersebut tidak menghasilkan apapun selain mengagitasi orang-orang. Kebanyakan orang akan berhenti memperhatikan para agitator—siapakah orang yang secara pribadi tidak mempunyai cukup antagonisme dan kejengkelan-kejengkelan dalam hidupnya?
Kita akan selalu menemui perang yang sedang menunggu keterlibatan orang-orang—lawan, lawan, lawan. Anarkis membuat perang menjadi sesuatu yang basi, dengan melampaui oposisi. Itu adalah revolusi.
Jangan bergabung dengan konflik yang sedang berlangsung dan melakukan pemihakan pada salah satu pihak; jangan menjadikan diri kita korban dari konflik yang terjadi: definisikan berulang-ulang proses terjadinya konflik, misalnya “orde baru versus reformasi” menjadi “demokrasi langsung versus kekuasaan elitis”.
Jika engkau ingin memprovokasi pemberontakan—jangan merumuskan program yang harus disetujui oleh semua pihak, jangan melakukan perekrutan, apalagi ‘mendidik massa’. Lupakanlah bahwa engkau harus merayu orang lain agar setuju dengan kau, berikanlah orang-orang dorongan agar mereka dapat mengembangkan ide mereka sendiri. Setiap orang yang mempunyai ide-idenya sendiri adalah lebih anarkis dibandingkan dengan setiap orang yang mempuyai “Ide Anarkis”. Organisasi sentralis ataupun otoritas yang diakui sebagai pemberontak hanya akan meredakan pemberontakan.
Untuk sebuah propaganda, jangan mengklaim kebenaran, bermain-mainlah dengan kebenaran—sisipkanlah pertanyaan-pertanyaan—tapi ingat bahwa tidak semua pertanyaan berakhir dengan tanda tanya. Bagi sebuah propaganda revolusioner, esensi dari pernyataannya bukanlah apakah ia benar secara obyektif—esensi dari propaganda adalah sejauh mana propaganda tersebut dapat memprovokasi respon dari mereka yang menerimanya, bukan sejauh mana propaganda tersebut adalah benar secara obyektif—pendekatan yang seperti ini membedakan revolusioner dengan para filsuf bajingan.

Sabtu, 06 Maret 2010

IMORALITAS NEGARA ( Mikhail Bakunin )


Kita dapat berasumsi bahwa pembentukan sebuah negara akan memprovokasi
pembentukan negara-negara lain. Hal ini adalah logika karena individu-individu
yang berada di luar negara tersebut merasa terancam dan mereka akan berkelompok
demi keamanan mereka. Akibatnya manusia telah terpecah belah menjadi banyak
negara (kelompok) dan manusia menjadi asing dan ganas terhadap sesamanya.

Dengan perpecahan tersebut, manusia tidak mempunyai hak umum dan
kontrak sosial di antara mereka, jikalau hak dan kontrak tersebut ada,
negara-negara tersebut akan lenyap dan menjadi anggota federasi dalam suatu
negara besar. Keculai negara (maha) besar ini merangkul seluruh umat manusia,
negara ini akan mengundang permusuhan dengan negara lainnya. Kalau kondisinya
seperti itu, perang akan menjadi hukum dan kebutuhan hidup umat manusia.

Setiap negara, apakah negara itu mempunyai karakter federasi atau
non federasi, mempunyai keharusan untuk melahap negara lain, supaya ia tidak
dilahap, memperbudak supaya tidak diperbudak dan menguasai supaya tidak
dikuasai.

Pada hakikatnya, setiap negara itu mempunyai karakter bertentangan
dengan nilai-nilai kemanusiaan. Negara menghancurkan solidaritas diantara
manusia dan mempersatukan sebagian manusia hanya untuk menghancurkan, menguasai
dan memperbudak sebagian lain manusia. Sebuah negara hanya melindungi warga
negaranya, karena negara itu tidak mengakui hak-hak orang lain diluar batas
kekuasannya: dan secara prinsipil, negara ini akan memperlakukan orang asing
dengan semena-mena. Kalau negara itu memperlakukan orang asing tersebut dengan
manusiawi, itu bukan karena kewajibannya: karena negara itu tidak mempunyai
kewajiban kepada siapa pun, tetapi kepada dirinya sendiri dan warga negaranya,
yang telah membentuknya.

Secara prinsipil, hukum internasional tidak dapat diterapkan tanpa
mengkontradiksi dasar kekuasaan negara yang absolut: bahwa sebuah negara tidak
mempunyai kewajiban terhadap orang asing. Kalau negara itu memperlakukan
populasi yang dijajahnya secara manusiawi, karena ia memperhitungkan konsekuensi
politik atas tindakannya, dan tidak pernah karena kewajibannya -karena ia
mempunyai hak yang absolut untuk memperlakukan orang asing semau- maunya.

Sekarang kita dapat melihat kontradiksi antara nilai-nilai
kemanusiaan dan prinsip kekuasaan negara dengan jelas sekali. Dalam sebuah
negara, kekosongan nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas diisi dengan sebuah
konsep, yaitu, patriotisme. Patriotisme dapat kita kategorikan sebagai moralitas
yang transenden, karena patriotisme adalah suatu moralitas yang tidak dapat
dijelaskan dengan logika dan rasionalitas. Umpamanya, merampok, menjajah,
membunuh, bagi seseorang yang bermoral adalah suatu tindakan kriminal yang
ganas, tetapi mungkin dilakukan oleh seorang patriotik.

Dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari, dan dari sudut pandang
patriotisme, kalau tindakan-tindakan tersebut dilakukan untuk membawa kebesaran
bagi suatu negara dan untuk memperbesar kekuasaan negara tersebut, semuanya
adalah merupakan kewajiban warga negara dan kelakuan yang terpuji. Setiap orang
akan dipastikan berbuat demikian tidak hanya terhadap orang asing tetapi juga
terhadap orang sebangsanya (umpamanya membunuh pengkhianat bangsa) jikalau
negara membutuhkannya untuk bertindak demikian.

Tujuan mutlak bagi setiap negara adalah untuk memperjuangkan
keberadannya dengan segala cara. Semua negara, sejak dibentuk di muka bumi ini
akan berjuang untuk selamanya (selama negara itu masih berada) -berjuang melawan
warga negaranya sendiri yang telah ia aniaya dan hancurkan, berjuang melawan
semua kekuatan asing. Setiap negara hanya bisa kuat kalau yang lain lemah
-akibatnya negara tidak dapat meneruskan perjuangannya kecuali negara tersebut
terus menambah kekuatannya -untuk melawan warga negaranya dan negara-negara
lain.

Kesimpulannya prinsip kedaulatan suatu negara adalah penambahan
kekuatan yang akan menyebabkan penyekatan kebebasan internal bagi warga negara
dalam negara itu dan penyelewengan keadilan di luar kekuasaan negara.

Penjelasan di atas adalah gambaran moral dan tujuan suatu negara.
Cara apapun yang dapat mencapai tujuan suatu negara, dianggap benar dan terpuji.
Negara adalah suatu institusi yang mempunyai tujuan mutlak untuk memperjuangkan
kedaulatannya selamanya, semua orang harus tunduk dan melayani kepentingan
negara tersebut. Tindakan-tindakan yang menghambat tujuan suatu negara, dianggap
kriminal. Moralitas suatu negara adalah kebalikan dari keadilan dan nilai-nilai
kemanusiaan.

Setiap saat penyelenggara negara, dalam menjalankan fungsi
kenegaraan dan mempertahankan institusi negara, dihadapkan kepada
alternatif-alternatif yang amoral , hanya ada satu jalan -bertindak secara
munafik. Institusi negara bercakap dan sepertinya berbuat dalam nama
kemanusiaan, tetapi institusi ini melanggar nilai- nilai kemanusiaan setiap
hari. Tetapi kita tidak dapat menyalahkan negara mengenai kecacatan karakternya
itu. Institusi negara tidak bisa berbuat sebaliknya, posisi negara
mengharuskannya untuk menjadi munafik- diplomasi tidak mempunyai maksud yang
lain.

Jadi, apa yang kita lihat? Setiap negara yang ingin berperang dengan
negara lain, akan mulai dengan menyebarkan manifesto kepada warga negaranya dan
ke seluruh dunia. Dalam manifesto itu, negara tersebut akan mengumumkan bahwa
kebenaran dan keadilan berada di sisinya, dan perang tersebut dilandasi cinta
dengan kemanusiaan dan kedamaian, dibubuhi sentimen-sentimen kedamaian yang
royal. Negara itu juga akan menyatakan kebenciannya terhadap kemenangan materi
dan menyatakan perang itu bukan untuk menambah kekuasaan (dan perang akan
diberhentikan secepat-cepatnya, kalau keadilan sudah diraih). Musuh negara itu
juga akan memberikan pernyataan yang sama.

Manifesto-manifesto yang berlawanan antara kedua negara tersebut
ditulis sama halusnya, mengandung kandungan moralitas dan bobot ketulusan yang
sama; dengan kata lain, kedua-dua manifesto itu adalah jelas-jelas bohong.
Orang-orang yang berakal sehat, mereka yang mempunyai pengalaman dalam politik,
tidak akan membuang waktu membaca manifesto-manifesto itu, hanya orang tolol
yang akan mempercayainya. Sebaliknya, mereka akan menyelidiki faktor-faktor yang
mendorong kedua-dua negara tersebut untuk berperang, dan mengira-ngira kekuatan
kedua-dua pihak dan menebak siapa yang akan menang. Ini membuktikan bahwa perang
seperti itu tidak mempunyai bobot moral.

Perjanjian-perjanjian (protokol) internasional yang mengatur
hubungan antara negara-negara di dunia, tidak mempunyai sangsi moral yang
berarti. Dalam setiap babak sejarah, perjanjian.protokol tersebut merupakan
ekpresi keseimbangan (equilibrium) kekuatan antara negara-negara, dan
konsekuensi dari pada ketegangan antar negara. Selagi negara-negara masih ada,
kedamaian tak akan tercapai. Hanya ada perdamaian temporer; jikalau sebuah
negara merasa cukup kuat untuk menghancurkan keseimbangan tersebut untuk
keuntungannya, negara itu tidak akan gagal menggunakan kesempatan ini. Sejarah
manusia telah membuktikan pernyataan di atas.


Ini menjelaskan kepada kita mengapa sejak sejarah dimulai, sejak
negara mulai dibentuk, dunia politik menjadi pentas penipuan dan perampokan
-penipuan dan perampokan yang terpuji karena dilakukan atas nama patriotisme,
moralitas transenden. Ini menjelaskan mengapa seluruh sejarah negara kuno dan
moderen, tidaklah lebih dari rentetan tindakan kriminal yang memuakan; mengapa
raja-raja, dan seluruh aparatus negara (menteri, diplomat, birokrat dan
pahlawan) kalau diadili dari sudut pandang moralitas yang sebenarnya, patut
dihukum seberat-beratnya.

Tidak ada satupun dari tindakan-tindakan seperti, teror, kekejaman,
penipuan dan perampokan, yang tak pernah dilakukan oleh aparatus negara (dan
sampai sekarang masih terus dilakukan), dengan alasan tidak lain dari alasan
kenegaraan. Pada saat institusi negara mengeluarkan suara, semua bungkam,:
ahlak, kejujuran, keadilan, hak asasi dan belas kasih, hilang, bersama dengan
logika dan akal sehat; hitam jadi putih dan sebaliknya; kejahatan dan tindakan
kriminal yang ganas dianggap sebagai perbuatan yang terpuji.

Senin, 01 Maret 2010

Perlawanan Eksekusi Lahan Warga Pandang Raya (Potret resistensi miskin kota melawan ekspansi kapital)


Perlawanan eksekusi lahan Warga Pandang Raya

Potret resistensi miskin kota melawan ekspansi kapital)
Makassar, 23 Februari 2010

Pandang Raya sebuah pemukiman kecil seluas 4900m2. Posisinya yang strategis, berada di tengah kota dan diapit oleh perumahan dan pusat perbelanjaan terbesar di kota ini, tentu adalah incaran bagi mereka yang tergiur akan peluang investasi di lokasi tersebut. Sama halnya yang terjadi di beberapa tempat lainnya, yang hilang dan terpinggirkan oleh pesatnya pembanguan infrastruktur, pandang raya kini menghadapi ancaman yang sama. Lahan kecil yang hanya dihuni oleh sekitar 40 rumah ini merupakan lahan emas yang kini diklaim oleh seorang bernama Goman Wisan, pengusaha kakao yang berdomisili di kota Palu.

Kasus sengketa ini telah berjalan lama dan menjalani proses persidangan yang memenangkan si pengusaha dan menetapkan keputusan eksekusi lahan tersebut. Surat keputusan ekseskusi tanah berapa kali telah dikeluarkan pengadilan tinggi. Eksekusi pertama gagal dijalankan oleh perlawanan warga setempat, begitu pula dengan ekseskusi kedua juga batal oleh serangkaian aksi yang dilakukan warga di beberapa instansi yaitu BPN, Pengadilan Negeri Makassar, dan Polwiltabes. Warga terus melakukan perlawanan dan mempertahankan lahan serta mencari dukungan solidaritas. Selain secara psinsipil bahwa tanah tersebut merupakan tempat hidup dan bernaung mereka selama berpuluh-puluh tahun, tanah tersebut adalah hak milik mereka yang sah, karena jelas bahwa tanah yang diklaim oleh si pengusaha berada di lokasi yang salah berdasarkan surat-surat tanah yang tertera. Tetapi bagaimanapun legalitas hukum yang dimiliki, kepentingan modal tetap mengambil kuasa. 23 Februari 2010 Eksekusi lahan kembali ditetapkan oleh pengadilan tinggi.

Sejak pagi warga setempat telah bersiap menyiapkan strategi, taktik serta amunisi untuk menghadapi eksekusi. Lokasi yang diapit oleh perumahan dan pusat perbelanjaan ini, dihubungkan oleh sebuah jalan diblokade dua arah oleh warga. Berjarak 100 meter dari pemukiman, jalan tersebut ditutup oleh drum panjang dan kawat duri. Batu-batu dari pinggiran jalan dan bambu runcing dikumpulkan warga sebagai amunisi bertahan mereka. Bersama sejumlah mahasiswa dan organ yang bersolidaritas atas ancaman eksekusi ini, menutup jalan sambil berorasi. Sekitar pukul 09:00 pagi satuan kepolisian dari Polsek makasaar timur dikerahkan menuju lokasi lahan. Terdapat 10 mobil PHH atau sekitar 300 satuan aparat diturunkan untuk proses eksekusi ini. Kedatangan aparat serentak membuat situasi mulai memanas, warga mulai bersiap menghadapi aparat yang telah menyusun formasi dengan tameng lengkap.

Saat memulai menyusun formasinya, Sesuatu yang menarik terjadi. Dihadapan aparat kepolisian, warga menyembelih seekor kambing sebagai simbol bahwa apapun yang terjadi mereka akan terus bertahan dan melawan sampai titik darah penghabisan. Ungkapan sakral dari sebuah perlawanan, yang sering mereka utarakan. Hal ini terlihat dari psikologi dan mental yang begitu siap menghalangi eksekusi walau secara kuantitas, jumlah mereka sangat kecil.

Selang berapa lama aparat mulai mendekati blokade warga. Spontan membuat warga serempak lebih bersiaga. Aparat bergerak maju dan mendekati blokade depan.Warga berteriak memberikan ultimatum agar aparat tidak bergerak maju tetapi tetap saja mereka terus mendekati blockade yang dipasang warga. Keadaan makin memanas, saat polisi mendekat, spontan warga bertahan dengan melemparkan batu ke arah polisi dari sinilah bentrok terjadi. Batu-batu terus dilemparkan, senjata minimal yang bisa digunakan warga untuk menghalangi kemungkinan terburuk terjadinya pembongkaran rumah mereka. Polisi terus bergerak, hingga mampu melewati blokade utama, pertahanan warga mulai terhambur, belum lagi oleh persediaan amunisi yang semakin sedikit. Tapi keadaan kembali berubah, saat beberapa orang melemparkan Molotov. Beberapa orang dari polisi terkena lemparan tersebut, seorang bahkan terkena bakar dan membuat formasi mereka berhamburan dan memecah. Kelabakan oleh lemparan yang terus diarahkan, satuan polisi kemudian mundur. Tetapi keadaan belum mereda, karena formasi atau ring kepolisian pertama diganti oleh Dalmas yang bertameng besi. Dalam cuaca yang cukup panas, satuan ini merengsek maju dan langsung menembakkan gas air mata kearah warga. Dua kali tembakan terus dilemparkan, menyebabkan warga berhamburan karena merasakan perih dan sesak oleh hirupan gas, sambil terus bertahan dengan melempar batu dan Molotov.

Tetapi kembali sesuatu menarik yang terjadi, saat kondisi alam seolah memihak pada pertahanan warga. Oleh arah angin, gas air mata yang dilemparkan justru kembali mengarah ke kerumunan aparat dan membuat mereka juga berhamburan. Lemparan batu yang tersisa, akhirnya melemahkan dan memundurkan dalmas. Saat mereka mundur, warga kembali menyiapkan amunisi batu dan Molotov untuk menghadapi kemungkinan serangan yang kembali datang. Hingga beberapa waktu polisi, masih menahan diri sampai akhirnya seorang dari pimpinan kepolisian meminta perwakilan warga untuk bernegosiasi. Keadaan mereda, saat keputusan eksekusi hari itu kembali dibatalkan. Luapan kegembiraan serentak diekpresikan dengan bersorak dan bernyayi terlebih saat satuan aparat dipulangkan dan meninggalkan lokasi mereka. Bentrokan antara warga dan aparat ini berlangsung kurang dari satu jam, keadaan mereda menjelang pukul 12:00.

Kata ‘anarkis” selalu identik oleh kerusuhan dan bentrok. Dilekatkan dengan pengrusakan, lemparan batu, dan tindakan sejenisnya. Merusak makna sesungguhnya bahwa aksi-aksi demikian justru adalah cara untuk mendapatkan kehidupannya. Luapan amarah dari lemparan batu dan Molotov, lagi-lagi dalam pandangan mainstream terlebih oleh media, tiada hentinya mencekoki kita dengan sesuatu yang sifatnya bar-bar dan rusuh. Tetapi sama sekali tidak pernah memandang bahwa cara inilah yang dipaksakan kepada mereka untuk menghadapi kekerasaan yang sesungguhnya dari Negara dan Kapital. Yang tidak akan pernah sebanding hanya dengan lemparan batu dan Molotov itu. Lucunya, media lah yang semakin mendapatkan nyawa dari situasi seperti ini.

Apa yang terjadi di pandang raya hari itu adalah sekian dari potret tersebut. Bentuk resistensi warga miskin kota yang bertahan untuk tetap terselip di ruang-ruang kota, walau mereka terus dipaksa dan diusir untuk kepentingan modal (pengusaha) yang terbelalak oleh investasi di lahan kehidupan mereka.

Apakah mereka akan mendapatkan kemenangan? Tak ada yang bisa menjawab, selain bagaimana warga haru terus bersiap mengantungi batu dan amunisi untuk terus bertahan.


Kronologis :

Jarak 100meter dari pemukiman . PHH 10 mobil, mereka datang jam 9:26. ..warga memasang blockade ke2, teridir dari bale bamboo dan . warga siap sejak jam 8, menyiapkan amunsi : blockade pertama bagian barat berupa drum besar, dan kawat duri. Begitu jg sebelah timur, amunisi lain batu, bamboo runcing. Yang mayoritas digunakan oleh peserta aksi. Parang, polisi tiba lemparan Molotov. Sekitar 300 aparat kemanana dari maktim, jumlah warga bersama mahasiswa sekitar 200..setelah orasi, polisi yang tiba 60 menit kemudian datang masang formasi dan tameng lengkap..5 menit kemudian mulai maju mendekati blockade 1. Warga yang member ultimatum agar tidak bergerak maju melempari dengan batu. Setelah itu polisi makin maju dan melewati blockade pertama. Molotov mulai dilepmarakan. 3 orang aparat terkena lemparan Molotov. Formasi mulai berhamburan, ring pertama mundur. Dan digantikan oleh ring kedua yaitu dari dalmas dengan tameng besi. Setelah dalamas menrangsek maju, gas air mata mulai ditembakkan ke arah warga. 2 kali tembakan gas iar mata, yng pertama perlawanan makin memicu perlawanan dari warga . tembakan Molotov kedua yang diarahkan kekerumunan warga membuat warga berhamburan. Bdibantu oleh kondisi alam khusunya arah angin yang mengarah ke arah polisi. Membuat aparat juga terkena dampak dari gas air mata. Pasca ini, polisi tetap bertahan dan warga yang kehabisan amunisi menyiapkan amunisi baru. Hal ini menyebabkan polisi menahan diri dan meminta perwakilan untuk tidak menyerang. Polisi menarik pasukannya. Eksekusi ditunda dan warga bersorak atas gagalnya eksekusi hari ini.